Menjual Kosep Warung Kopi



“Never sell a product or service. Always sell a concept.”

Kutipan marketing di atas bisa bicara soal produk dimana semua konsep kita yang melekat terhadap produk secara fisik. Dalam artikel ini saya agak tertarik membahas konsep warung kopi.
Berawal dari pembicaraan saya dengan seorang teman yang mengkritisi produksi minuman dalam sebuah bar di warung kopi. Bagaimana secara teknis menyediakan kopi manual brewing, sebagai daya tarik utama sebuah warung kopi. Bahasan sebuah keunggulan yang bisa diciptakan warung kopi dari pada warung kopi lain.

Dalam sudup pandang lain saya mulai tergelitik untuk melihat target market. Target market dengan lingkungan kampus, dimana sebenarnya tidak semua mahasiswa memahami kopi sampai sedetail itu, kwalitas warung yang memahami kopi tentu sesuatu keunggulan, tapi apakah ini kebutuhan utama target market?
Bagaimanapun sebuah warung kopi secara umum memenuhi kebutuhan sebagai tempat nongkrong. Meski ada beberapa warung kopi mempunyai defferensiasi pengetahuan kopi dan dengan kisah kopi yang menjadi nilai menguatkan daya jualnya.
Sebagai tempat nongkrong, tempat harus homy dan ramah kepada pelanggan. Ini bisa decapai dengan menganal nama pelanggan, mengajak bicara sehinga merasa menjadi bagian dari warung kopi. Ini bisa dilakukan oleh barista, owner/manager, bahkan waitress. Bahan pembicaraan dan person yang melakukan komunikasi jelas mempengaruhi kualitas. Menyebut nama mereka saat menyapa mempunyai efect panjang yang mungkin banyak pengelola warung kopi tidak sadari.

Sentuhan dasar emosional atau psikologi selalu berhasil untuk produk produk yang mengadalkan pelanggan yang datang berulang. Warung kopi itu tidak hanya kopi produknya atau makanan pendamping. Sebuah warung kopi, kopi, penyajian, personel, komunikasi, kenyamanan ruang, adalah paket produk yang jika Anda perhatikan keseluruhan adalah sebuah defferensiasi yang otentik, susah ditiru bahkan oleh Anda sendiri.

No comments: